[Company Logo Image]                   



 


Video
Pengantar




Gallery Photo




Dobermann

 


VCD Juntak




ODU
KARATE



PERMAI HR


Tanya-Jawab Mengenai Durian Juntak (Part A):
 
Q:  Apa yang ditawarkan Durian Juntak kepada penggemar dan maniak durian?
A:  Kami menawarkan durian yang kami jamin akan memuaskan pembeli.
     Durian yang kami tawarkan merupakan durian bermutu tertinggi yang mungkin
     dihasilkan, antara lain melalui pemilihan klon terbaik Monthong, perawatan dan
     pemeliharaan yang baik, durian yang bebas bahan kimia berbahaya, dan panen
     matang pohon. Apabila ada yang merasa kurang puas, maka kami bersedia
     untuk mengembalikan uang customer. Para maniak durian tidak perlu lagi
     'berburu' hingga ke desa-desa untuk mendapatkan durian yang dapat
     memuaskan selera mereka.

Q:  Apa benar mutu durian Durian Juntak lebih tinggi dari Monthong Impor?
A:  Ya. Penyebab utama durian kami bermutu lebih baik dibanding durian impor,
      karena semua durian kami adalah durian matang pohon atau lebih umum
      dijuluki “jatuhan.”  Proses kimiawi maupun proses biologis pada buah durian
      kami mencapai tingkat maksimum, sehingga mutunya juga menjadi sempurna.
      Sedang durian impor, terutama dari Thailand, semuanya adalah buah petikan
      yang proses pematangannya belum selesai. Lamanya perjalanan sejak dari
      kebun di Thailand hingga mencapai supermarket atau toko buah di Indonesia,
      misalnya Jakarta, menjadi penyebab utama. Bila menggunakan angkutan laut,
      paling cepat 2 minggu. Hanya durian petikan yang bisa bertahan selama itu.
      Bila durian tersebut adalah durian jatuhan, maka dalam  perjalanan selama
      2 minggu pastilah sudah akan retak dan busuk.

Q:  Apa benar durian Monthong produksi Durian Juntak sungguh jatuhan?
A:  Kami dapat memahami apabila masih ada yang meragukan produk kami
     sungguh durian jatuhan, sehingga ingin melihat sendiri kebenarannya dengan
     mendatangi kebun kami.  Memang sudah sejak lama sulit untuk menemukan
     durian jatuhan, terutama di kota besar seperti Jakarta. Bahkan tidak jarang
     konsumen merasa tertipu karena durian peraman dikleim sebagai durian
     jatuhan. Durian kami secara harfiah memang tidak tepat disebut “jatuhan”
     karena tidak dibiarkan jatuh sendiri dari pohonnya. Kami menggunakan istilah
     tersebut karena sudah populer dan lebih singkat sebagai padanan dari
      "matang pohon". Sekitar sebulan sebelum ada yang jatuh, para pekerja
     kami mulai melakukan pengikatan buah. Dengan demikian, ketika buah durian
     sudah matang dan copot dari tangkainya, tidak akan jatuh ke tanah. Selama
     musim panen, dua atau tiga kali dalam sehari pekerja kami memeriksa
     setiap pohon untuk melihat apakah sudah ada yang copot dari tangkainya dan
     menggantung pada tali pengikatnya. Buah durian tersebut diturunkan dan
     dikumpulkan.

Q:  Apa tidak lebih sulit membuat durian jatuhan?
A:  Bagi kami membuat durian matang pohon atau jatuhan justru lebih mudah,
     lebih praktis dan lebih menguntungkan dibanding membuat durian petikan
     atau peraman.  Membuat durian petikan justru mengandung paling tidak
     dua risiko. Risiko pertama ialah cabang patah atau sempal karena diinjak
     ketika pekerja berusaha mendekati buah agar dapat mengetuk dan
     mendengarkan bunyinya. Banyak buah durian yang jauh dari batang
     utamanya. Patahnya cabang sangat merugikan; buah muda pada cabang
     tersebut ikut jatuh, dan cabang yang berkurang menyebabkan produktivitas
     pohon tersebut menurun di kemudian hari . Risiko kedua, ialah terpetiknya
     buah yang terlalu muda sehingga tidak akan mau matang, berarti tidak
     dapat dijual.
     Ada hasil penelitian di Institut Pertanian Bogor yang menyatakan, bahwa durian
     yang dipetik seminggu sebelum jatuh akan memiliki kualitas sama dengan
     jatuhan. Masalahnya, sampai sekarang belum ada cara, alat atau metode
     terpercaya untuk mengetahui berapa hari lagi suatu buah akan jatuh. Bila
     hanya mengandalkan metode mengetuk dan mendengarkan bunyinya, akan
     sering terjadi terpetiknya buah yang masih muda, karena perbedaan umur
     buah dalam satu pohon bisa sampai dua bulan.
     Kedua risiko itu teratasi dengan membuat buah durian matang pohon atau
     jatuhan. Dengan diberi contoh sekali saja, seorang pekerja dengan mudah
     akan memahami cara mengikat buah, termasuk yang agak jauh dari batang
     utamanya. Ujung talinya dibuat seperti jerat, dengan menggunakan galah kecil
     dilingkarkan pada buah, ditarik dan dikencangkan, dililitkan ke dahan di atasnya,
     lalu ujungnya diikatkan ke dahan yang terjangkau dari batang utama. Dengan
     demikian, terhindar dari risiko pertama, yakni patahnya cabang karena
     diinjak oleh pekerja.
     Risiko kedua, berupa terpetiknya buah muda, juga dengan sendirinya teratasi,
     karena semua buah sudah pasti matang sempurna. Para pekerja yang berkeliling,
     tanpa perlu memanjat pun, dapat melihat buah yang sudah menggantung pada
     talinya, dan menurunkannya dengan tali, bila ada. Cara ini juga mencegah kerugian
     lainnya, yakni terbenturnya buah ke cabang atau ke tanah sehingga kulitnya rusak,
     memar atau bonyok, tangkainya rusak, kotor, merontokkan buah yang berada di
     bawahnya atau hilang karena terguling ke tempat lain.

Q:  Bagaimana perbandingan harga durian Durian Juntak versus durian impor?
A:  Harga durian kami kadang-kadang lebih murah, tetapi tidak jarang juga lebih mahal.

     Setiap hari kami selalu memonitor harga durian monthong di toko buah dan
     supermarket, tetapi kami memang tidak dapat dan tidak “reasonable” mengikuti
     pergerakan harga yang mereka terapkan, yang setiap hari bisa berubah. Soalnya,
     harga durian monthong impor mengalami fluktuasi, tergantung banyaknya durian
     masuk, dan kualitasnya. Pada saat buahnya baru datang dan segar, mereka
     mematok harga tinggi. Pada saat itu kemungkinan besar harga durian kami lebih
     rendah. Setelah dua atau tiga hari, bila belum habis, harganya mereka turunkan.
     Dua atau tiga hari kemudian mereka turunkan lagi. Ini sangat wajar, karena kualitas
     durian yang belum laku (karena belum matang) tentunya setiap hari akan menurun.
     Semakin lambat sebuah durian petikan matang berarti semakin muda usia buah
     tersebut ketika dipetik dan semakin kurang enak rasanya. Setelah harganya mereka
     turunkan beberapa kali, maka harganya sudah di bawah harga durian kami. Pada
     saat seperti itu tidak jarang kami menerima telpon dari calon pembeli yang merasa
     heran, kok durian kami lebih mahal dari harga yang ditawarkan oleh toko buah atau
     supermarket. Padahal mutu durian mereka itu mungkin sudah tidak layak lagi
     dikonsumsi, lalu “diobral” daripada dibuang ke tong sampah. Bagi kami tidak berlaku
     hal seperti itu sehingga tidak masuk akal melakukan penurunan harga, karena mutu
     durian kami tidak menurun dengan berjalannya waktu. Durian yang kami jual adalah
     durian segar matang pohon yang setiap hari diturunkan dari pohonnya.


Q:  Berapa harga-jual buah durian Durian Juntak?
A:  Kami senantiasa memonitor (melalui telpon) harga durian impor yang ditawarkan
     oleh supermarket dan toko buah. Hasil monitoring itu kami gunakan untuk
     menentukan harga jual kami. Namun harga durian kami tidaklah turun naik seperti
     yang mereka lakukan, karena tidak ada alasan yang rasional untuk itu. Berbeda
     dengan mutu durian yang mereka jual, mutu produk kami  stabil, karena semuanya
     adalah durian matang pohon atau jatuhan. Dalam tiga tahun terakhir harga durian
     utuh berkisar di antara Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. Sedang harga
     isinya saja, seperti umumnya dilakukan oleh supermarket dan toko buah adalah 3
     kali lipat harga buah utuh. Dari hasil penelitian kami, rasio isi durian dengan durian
     utuh berkisar antara 30 hingga 35 persen.

Q:  Dibanding harga durian lokal, apakah harga Durian Juntak tidak terlalu mahal?
A:  Memang demikian umumnya persepsi orang. Katakanlah ketika harga durian kami
     Rp 25.000/kg, durian yang berbobot 4 kg akan berharga Rp 100.000. Akan segera
     terdengar mahal, bukan? Tetapi cobalah belanjakan Rp 100.000 di penjual durian di
     tepi jalan, mungkin akan diperoleh 3 atau 4 buah durian lokal atau durian kampung,
     yang rasanya berbeda-beda karena berasal dari pohon yang berbeda-beda juga.
     Kemudian keluarkan dan pisahkan daging buah kedua jenis durian itu. Kemungkinan
     besar bobot daging buah durian kami akan lebih berat. Sehingga bila dilihat dari segi
     rasio harga dan berat daging buah yang dapat dimakan, rasio durian Monthong kami
     akan lebih kecil. Artinya, harga durian kami, misalnya per 100 gram daging buah
     yang bisa dimakan,  lebih murah. Sebabnya tidak lain karena durian monthong
     berdaging buah amat tebal dan berbiji kempis. Memakan durian Monthong akan
     lebih praktis dan lebih higienis dengan menggunakan sendok. Sedang durian lokal
     atau kampung kebanyakan berbiji besar dan berdaging buah tipis, sehingga janggal
     kalau dimakan pakai sendok. Ketika hal ini kami utarakan kepada konsumen,
     seringkali mereka "kaget". Mereka mengaku tidak berpikir sejauh itu, sehingga
     kurang menyadari bahwa yang ingin dibeli adalah daging buah duriannya, yang dapat
     dimakan dan ditelan. Ini baru dari segi harga. Kelebihan durian kami lainnya ialah
     dijamin matang pohon, memiliki rasa yang relatif homogen dan bila kurang
     memuaskan dapat ditukar durian atau uang dikembalikan. Pembeli tidak perlu
     menjadi seorang ahli dalam memilih durian yang baik karena rasa durian kami
     standar dan seragam sehingga pembeli tidak akan pernah merasa tertipu.


Q:  Mengapa durian lokal juga sudah jarang yang jatuhan?
A:  Ada dua penyebab utama mengapa durian lokal yang dijual di kota besar, seperti
     Jakarta, sangat jarang yang merupakan durian jatuhan. Pertama, durian lokal yang
     dijual di Jakarta belakangan ini berasal dari daerah. Bahkan durian dari Sumatera
     Utara, yang dijuluki Durian Medan, juga sampai ke Jakarta. Pada umumnya durian
     lokal sangat mudah retak. Dalam satu dua hari setelah jatuh sudah akan retak.
     Berbeda dengan durian Monthong, setelah jatuh dapat bertahan tiga sampai lima
     hari. Oleh karena durian lokal tersebut  berasal dari daerah, maka sangat tinggi
     risikonya bagi pedagang untuk membawa durian yang matang pohon. Yang kedua,
     ialah sistem penjualan durian kepada para tengkulak yang biasa dilakukan oleh

     para petani. Para petani kita pada umumnya hanya memiliki dua hingga lima pohon
     durian. Ketika buahnya sudah menjelang matang, biasanya dijual kepada pedagang
     secara borongan atau tebasan. Sejak terjadi transaksi, keamanan buah menjadi
     tanggung jawab pedagang. Pedagang menggaji orang untuk menjaganya, siang
     dan malam. Bila yang dijaga hanyalah lima pohon misalnya, maka biaya penjagaan
     itu menjadi relatif sangat mahal. Itulah sebabnya, begitu ada beberapa buah yang
     jatuh karena sudah matang, segera mulai dilakukan pemetikan. Sedang bagi kami,
     biaya penjagaan relatif murah, karena seorang pekerja dengan ditemani anjing
     dobermann dapat menjaga beberapa ratus pohon.


Q:  Apakah durian Monthong dapat langsung dimakan ketika baru jatuh dari pohon-nya?
A:  Tidak. Pada umumnya, ketika baru jatuh dari pohonnya jarang yang sudah harum
     sebagai pertanda sudah matang. Dibutuhkan 2-4 hari baru benar-benar matang,
     tergantung pada besar buahnya: Semakin besar ukurannya akan semakin lama
     waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kematangan sempurna. Bila menginginkan
     rasanya benar-benar legit (ada rasa “pahitnya”), maka sebaiknya dimakan ketika
     sudah mulai retak sedikit di bagian “ekornya”. Tetapi ada juga orang yang lebih
     menyukai durian yang agak “mengkal” dan masih agak keras, terutama orang-

     orang Thailand.


Q:  Apakah durian produk Durian Juntak bebas bahan kimia berbahaya?
A:  Ya. Kami sangat memperhatikan keselamatan dan kesehatan konsumen kami.

     Buah durian kami dijamin tidak mengandung pestisida (fungisida dan insektisida)
     atau bahan-bahan kimia lainnya yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Kalaupun
     kami menggunakan insektisida repellent untuk mengusir (bukan membunuh) hama
     pembusuk, kami gunakan bahan-bahan dari tumbuhan (insektisida nabati) yang
     ramah lingkungan dan cepat hilang. Untuk buah yang panen sekitar bulan Agustus-
     Oktober, yang berasal dari kembang bulan April-Mei, sama sekali tidak disemprot
     dengan insektisida karena serangan hama pembusuk dalam musim itu memang
     tidak ada. Insektisida nabati untuk mengusir hama hanyalah digunakan pada buah
     yang panen bulan Januari-Maret, yang berasal dari kembang bulan September-
     Oktober, yakni ketika buah masih kecil hingga sebesar bola tennis. Pada saat seperti
     itulah hama sejenis kupu-kupu (seperti Conogethes punctiferalis dan Mudaria
     luteileprosa
) meletakkan telurnya pada buah, yang kemudian berubah menjadi ulat
   
 (larva) dan menerobos ke dalam buah. Paling lambat dua bulan sebelum buah

   
 durian jatuh, kami telah menghentikan penggunaan insektisida tersebut, sehingga
   
 dijamin tidak akan ada lagi residunya pada buah.

Q:  Siapa target-market Durian Juntak?
A:  Target market kami ialah para penggemar dan pencinta buah durian kelas berat.
     Mereka sangat mementingkan dan mengutamakan kualitas dibanding harga.
     Oleh karenanya kami berusaha sekuat mungkin menjaga mutu durian yang kami
     jual agar selalu prima. Namun, bagi penjualan durian secara utuh, pengecekan
     mutu tidaklah mudah; walaupun sudah harum dan bunyinya sudah “ngebass”
     ketika diketuk, masih mungkin terjadi belum semuanya matang. Untuk mencegah
     kekecewaan customer, kami berikan garansi. Apabila ada pelanggan yang merasa
     durian kami kurang memuaskan, kami bersedia menggantinya atau mengembalikan
     uangnya (tentunya durian yang dibeli harus dikembalikan juga kepada kami).
     Menjaga mutu durian isi jauh lebih mudah, karena dengan melihat penampilannya
     saja kami sudah tahu apakah daging buah durian itu baik dan enak.


Q:  Apakah Durian Juntak sudah memiliki outlet?
A:  Kami baru memiliki tiga outlet: 2 di Jakarta dan 1 di Bandung. Untuk
     sementara ini, kami baru sanggup melayani Jabotabek dan Bandung
     saja, karena produksi kami masih relatif sedikit. Bila nanti produksi
     kami sudah semakin meningkat, baru kami pertimbangkan untuk
     menambah outlet di luar Jakarta dan Bandung.

 
    DKI, Jakarta (Headquarter):
        Durian Juntak
        (Cafe Durian ~ makan di tempat)
        Jl Tebet Timur Dalam Raya 119
        Tebet, Jak-Sel 12820
        Phone: (021) 8312-416
        Fax: (021) 8370-0042
        SMS:  (0813) 1551-9035
       
PETA -- Lokasi Durian Juntak (.JPG 197 KB)
        PETA -- Lokasi Durian Juntak (.PDF 266 KB)


       
DKI, Jakarta (Dealer/Pengecer):
        Restoran Red Corner
        Jl. Setiabudi Barat No. 1A
        Phone: (021) 7070-9345
       
PETA -- Lokasi Red Corner (.JPG 96 KB)
        PETA -- Lokasi Red Corner (.PDF 138 KB)


       
Bandung, Jawa-Barat (Dealer/Pengecer):
 
       Toko Buah QUEEN,
        Jl. Karapitan 29A
        Bandung, Jawa Barat
        Phone:      (022) 730-1941
                                731-7209

Q:  Apakah mudah untuk mencapai outlet Durian Juntak?
A:  Sangat mudah. Outlet pertama (headquarter) mudah dicapai dari segala penjuru
     Jakarta, karena dekat dengan jalan toll Cawang-Semanggi. Dari Pancoran
menuju
     Cawang, setelah melewati RS Tebet, ada simpang ke kiri masuk ke Jl. Tebet Timur
     Raya. Setelah 250 m ada pertigaan ke kanan masuk ke Jl. Tebet Timur Dalam Raya
     menuju Pasar PSPT. Sekitar 500 m dari pertigaan itu, di sebelah kanan, dua rumah
     setelah Toko Roti “Larisia”, di sebelah kanan Cyber City dan di sebelah kiri travel
     agent Masindo,  akan Anda temukan outlet pertama kami. Outlet kedua, di Jalan
     Setiabudi Barat No. 1A, juga mudah ditemukan. Dari Jalan Sudirman, masuk ke Jl.
     Setiabudi Raya (di sebelah kanan Chase Plaza), 100 m setelah belokan ke kiri, di
     sebelah kanan akan mudah ditemukan Restoran Red Corner. Sedang yang di
     Bandung, kiranya tidak perlu diterangkan lagi, karena Toko Buah Queen di Jl.
     Karapitan no. 29A sudah amat terkenal dan dekat ke alun-alun Bandung.


Q:  Apakah pembelian di satu outlet dapat dikleim di outlet yang lain?
A: 
Untuk outlet Jakarta, Ya. Sedang pembelian di Bandung tidak dapat dikleim di

     Jakarta atau sebaliknya. Perlu kiranya kami jelaskan bahwa kleim hanya akan
     dilayani bila durian yang dibeli disertai label asli (tanpa perubahan pada label maupun
     benang pengikatnya) diserahkan secara utuh kepada outlet kami. Dengan demikian
     dapat diketahui dengan pasti berapa penggantian yang harus kami berikan.


Q:  Apakah dilayani orang yang ingin makan durian di outlet Durian Juntak?
A:  Ya. Kami menyediakan fasilitas makan durian di Jl. Tebet Timur Dalam no. 119.
     Waktu buka adalah dari pukul 11 pagi hingga pukul 10 malam. Restoran “Red

     Corner” yang di Jl. Setiabudi Barat no. 1A, juga melayani konsumen yang ingin
     memakan durian di tempat itu. Sedang toko buah “Queen” di Bandung hanya
     mengutamakan penjualan durian utuh atau durian isi saja. Namun demikian,
     apabila customer ingin memakan satu atau dua buah di tempat itu, sambil berdiri,
     pemilik toko tersebut tidaklah keberatan.


Q:  Mengapa produk Durian Juntak belum tersedia di supermarket atau toko buah?
A:  Pada umumnya supermarket atau toko buah terkenal merasa “di atas angin”
     dalam menghadapi para pemasoknya. Term and condition yang mereka berlakukan
     cenderung lebih menguntungkan mereka saja. Misalnya memberlakukan sistem
     "konsinyasi" atau pembayaran kemudian yang kadang-kadang berlarut-larut.
     Dengan demikian, pemasok menjadi penyedia modal bagi mereka (yang bermodal
     lebih kuat). Marjin (selisih harga jual dengan harga beli) yang mereka inginkan juga
     “keterlaluan,” tidak-adil atau tidak-fair; misalnya harga jual mereka dua kali lipat
     harga belinya. Salah seorang pemilik toko buah pernah mengutarakan risiko yang
     ditanggungnya sebagai justifikasi marjin yang demikian tinggi. Daripada berpanjang-
     panjang menerangkan apa arti risiko, seperti financial risk, langsung saja kami
     tanyakan apakah sudah ada penjaga toko buah dalam gedung disambar petir.
     Pemilik toko buah tersebut hanya dapat tersipu-sipu. Sampai sekarang, kami
     memang belum pernah menawarkan produk kami kepada supermarket atau
     toko buah terkenal. Kami ingin mencoba mempopulerkan sendiri dahulu nama
     kami, dengan menjual langsung kepada end-user. Lagi pula, kami menilai bahwa
     pelayanan yang kami berikan masih lebih baik daripada yang diberikan oleh
     supermarket dan toko buah (misalnya, kami melayani pembeli durian di
     Jl. Tebet Timur Dalam no. 119 Jakarta setiap saat, biar tengah malam sekalipun,
     asal menelpon dahulu). Produksi kebun kami juga masih relatif sedikit, baru
     mencapai 10 persen dari kapasitas penuhnya. Namun bila kelak ada supermarket
     atau toko buah yang bersedia bekerja sama dengan dasar saling membutuhkan
     dan saling menguntungkan, tidak tertutup kemungkinan produk kami akan
     tersedia di supermarket atau toko buah tertentu.

Q:  Cara apa yang terbaik dan paling efektif bagi penyebaran informasi Durian Juntak?
A:  Dari pengalaman beberapa tahun ini, penyebaran informasi dari mulut-ke-mulut

     merupakan yang terbaik dan paling efektif. Cukup banyak customer baru kami
     yang tertarik karena saran orang lain yang sudah pernah membeli durian kami.
     Dapat kami katakan bahwa 95% dari pembeli baru yang sudah pernah mencicipi
     atau membeli durian kami, akan datang kembali pada musim panen berikutnya.
     Banyak para pelanggan yang meminta agar nama dan nomor telponnya kami
     catat untuk ditelpon bila durian kami sudah mulai panen.


Q:  Apa yang membuat customer Durian Juntak loyal?
A:  Pertama-tama dan yang paling penting, kami jujur dan terus terang kepada
     customer kami. Kami juga berusaha agar selalu konsisten dan memenuhi apa
     yang kami janjikan. Keuntungan jangka panjang lebih kami utamakan dibanding
     keuntungan jangka pendek, karena Durian Juntak kami inginkan akan eksis dan
     bertahan sampai lama. Kami juga berusaha memberi penjelasan yang masuk akal.

     Produk kami bukan hasil manufacturing yang selalu dapat diuji sebelum dijual,
     sehingga tidak mustahil ada perbedaan di antara satu buah dengan buah lainnya.
     Juga berbeda dengan hasil masakan, seperti kue, bila takaran bahan-bahannya
     konsisten maka hasilnya juga akan konsisten. Sedang produk kami adalah hasil
     proses biologis yang sangat kompleks. Oleh karena itu bisa saja buah yang kami
     nilai baik ternyata kemudian setelah dibuka kurang memuaskan konsumen. Dalam
     hal seperti itu kami meminta maaf dan menawarkan pilihan: Menggantinya dengan
     durian baru (bila tersedia) atau mengembalikan uang mereka. Ada kalanya,
     terutama pada masa-masa banyak buah yang tidak mau matang sempurna,
     misalnya di awal musim panen,  kami menyarankan kepada konsumen agar durian
     yang mereka beli dibuka saja, dan isinya dipindahkan ke kotak stryrofoam. Mana
     yang lebih murah, harga durian utuh atau harga durian isi, itu yang dibayar oleh
     konsumen. Kami tawarkan demikian dengan tujuan demi kepuasan konsumen.
     Juga untuk menghindari adanya kleim yang sebenarnya tidak diinginkan oleh
     konsumen karena situasi traffic Jakarta yang hampir selalu macet. Bisa saja ada
     sebagian yang kurang matang, tetapi bagian yang matang dimakan juga, karena
     sudah ngiler. Sungguh repot apabila kejadian seperti itu dikleim. Secara umum,
     kami hanya memberikan penggantian apabila durian yang dibeli dikembalikan
     seutuhnya. Namun, bila isi yang tidak matang dibawa (disertai kulit dan labelnya),
     akan kami ganti dengan isi durian atau uang dengan nilai yang sama.


Q: Apa benar durian lokal atau kampung lebih enak dari durian Monthong?
A: Memang sering orang mengatakan kepada kami bahwa durian Medan, Jepara,
     Parung, Rancamaya, atau durian Palembang lebih enak dari durian Monthong. Ada
     tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pernyataan seperti itu. Pertama, selera
     memang sulit diperdebatkan, karena setiap orang memiliki selera tersendiri. Ada
     yang menyukai daging durian mengkal (seperti orang Thailand) dan ada yang
     menyukai daging yang empuk. Ada yang menyukai manis saja, tetapi ada pula
     yang menyukai rasa "pahit." Kedua, yang berpendapat seperti itu biasanya
     membandingkan durian lokal dengan Monthong impor, yang merupakan durian
     petikan. Lebih parah lagi bila durian impor pembanding dibeli pada saat diobral
     karena mutunya sudah sangat jelek dan sepantasnya dibuang ke tong sampah.
     Ketiga, sebenarnya tidak jelas yang mana yang dimaksud dengan durian dengan
     nama daerah, seperti durian Medan,
Jepara, Parung, Rancamaya, atau Palembang.
     Di Sumatera Utara, seperti juga di daerah lain, terdapat banyak sekali ragam durian,
     mulai dari yang paling enak hingga yang paling hambar (Orang tua kami di Tanah
     Jawa, 20 km dari Pematang Siantar memiliki 15 pohon durian kampung/lokal yang
     saling berbeda dalam hal tampilan, bentuk dan rasa). Durian yang didatangkan dari
     Sumatera Utara ke Jakarta akan disebut durian Medan. Mungkin dipilih yang relatif
     baik, tetapi tetap tidak homogen seperti durian Monthong dari mana pun. Ada yang
     lebih enak dan ada juga yang kurang enak dibanding durian Monthong. Biasanya,
     yang mengatakan bahwa durian Medan lebih enak dari durian Monthong ialah
     mereka yang suka  pada durian yang memiliki “rasa pahit” (dalam bahasa Batak
     Tapanuli disebut “paet lada”). Rasa durian Monthong impor, yang petikan atau
     bukan matang pohon, pada umumnya memang tidak memiliki rasa seperti itu.
     Kami yakin orang tersebut akan berpendapat lain bila yang dibandingkan adalah
     durian Monthong matang pohon, dan dibuka bila mulai merekah, rasa pahitnya pasti
     ada. Justru di situ letak kelebihan  durian kami dibanding durian Monthong impor.

Q:  Bolehkah saya sebagai pedagang-buah menjadi distributor Durian Juntak?
A:  Setiap permintaan seperti itu akan kami tanggapi dengan sangat serius. Namun
     perlu kami tegaskan, bahwa kami tidak bersedia bekerja-sama dengan pedagang
     yang tamak atau greedy. Bila Anda mengharapkan marjin yang sangat tinggi,
     seperti kebanyakan pedagang hasil pertanian, sebaiknya urungkan saja niat Anda
     menjadi distributor Durian Juntak. Anda tidak akan mengalami kerugian berbisnis
     dengan kami, tetapi janganlah langsung mengharapkan keuntungan besar dalam

     jangka pendek. Yang kami harapkan adalah distributor yang berorientasi jangka
     panjang, karena bisnis durian kami ini juga dimaksudkan untuk bertahan dalam
     waktu yang sangat panjang. Mengingat produk kami adalah durian jatuhan, maka
     lama perjalanan dari kebun kami ke tempat Anda merupakan salah satu faktor
     penentu. Kami menuntut komitmen Anda dalam memuaskan kebutuhan para
     pencinta durian bermutu tinggi. Banyak pengusaha Indonesia yang bangkrut
     karena ketamakan pemiliknya: setelah produknya cukup laku timbul keinginan
     memperoleh untung yang lebih besar dengan menurunkan mutu produknya.
     Ambil sebagai contoh lembaran tripleks; dikatakan ketebalannya 4 mm tetapi kalau
     diukur hanya 3 mm. Hanya di negeri kita ini barangkali ada istilah “banci,” karena
     ukurannya tidak standar dan tidak sama dengan yang disebutkan. Bagi kami juga
     tidak masuk akal untuk apa kaleng cat yang satu liter hanya berisi 700 ml. Ketika
     pengusaha lain muncul dengan mutu yang standar dan lebih terjamin, barulah
     pengusaha tersebut sadar, tetapi sudah terlambat karena namanya sudah terlanjur
     rusak. Praktek-praktek seperti inilah yang menimbulkan citra bahwa barang impor
     selalu lebih baik dari produksi lokal. Ada juga yang memberi alasan bahwa biaya
     produksi meningkat, sedang harga jual sulit dinaikkan. Dalam situasi seperti itu, kami
     akan memilih menaikkan harga daripada menurunkan kualitas apabila innovasi dan
     upaya efisiensi kami tidak berhasil menurunkan biaya produksi. Memang sungguh
     aneh tapi nyata, produk luar negeri dari tahun ke tahun mengalami peningkatan
     mutu, sementara produk lokal kita lebih sering mengalami hal sebaliknya.


Q:  Apakah boleh membeli durian di lokasi-kebun Cariu?
A:  Bila Anda sudah “terlanjur” datang ke kebun, dengan terpaksa akan kami layani.
     Kami sebenarnya belum ingin dan siap untuk dikunjungi karena masih sangat sibuk
     melakukan percobaan, mendidik para pekerja, dan belum memiliki tenaga yang
     dapat melayani tamu. Sistem kontrol dalam penjualan durian di kebun juga belum
     kami siapkan, sehingga hanya Midian Simanjuntak yang berwenang menjual durian
     di kebun. Apabila Midian Simanjuntak sedang tidak berada di kebun, mohon maaf,
     keinginan Anda untuk membeli durian tidak akan terkabul. Anda kemungkinan besar
     akan merasa heran dan menggerutu bila harga durian di kebun kami tetapkan lebih
     tinggi daripada harga di Tebet. Kebijakan seperti itu kami berlakukan agar Anda
     “kapok” membeli durian di kebun kami, dan terdorong membelinya ke Tebet.

Q:  Apakah orang non-Asia, seperti orang Eropa atau Amerika, suka makan durian?
A:  Pada umumnya tidak, terutama karena baunya yang menyengat. Baunya itu
     pulalah yang membuat durian dilarang dibawa ke hotel atau dalam penerbangan.

     Banyak tumbuhan atau buah di daerah tropis yang berbau tajam, karena persaingan
     yang keras untuk menarik perhatian serangga atau hewan yang akan membantu
     penyerbukan atau penyebaran bijinya. Sedang di daerah sub tropis, memang jarang
     yang berbau keras. Sebagian bule yang sudah pernah memakannya mengatakan
   
 “Smells like hell, tastes like heaven.” Linschott (1599) dalam laporan perjalanannya
   
 menulis: "It is of such an excellent taste that it surpasses in flavour all the other
     fruits of the world
..." Professor Alfred Wallace, ahli botani yang spesialis mempelajari
   
 buah tropis sebelum adanya kapal uap menegaskan "the taste of durian is worth
     the travel to the Far East
." Walaupun sudah sejak lama ada bule yang mencicipi dan
   
 menyukai durian, sampai sekarang boleh dikatakan jumlah bule penggemar durian
   
 masih sedikit. Di akhir tahun 80-an Midian Simanjuntak punya teman sekantor
   
 bernama Evan Hassiotis (warga negara Junani, jebolan University of Arizona,
   
 Tucson, beristeri orang Amerika, dan bekerja sebagai anggota konsultan Booz Allen
   
 & Hamilton). Suatu kali di Palembang, dia didorong-dorong tuan rumah (orang BRI
   
 Palembang) agar mencicipi durian, yang sebelumnya selalu dia katakan  “skunk
   
 (binatang mirip musang yang mengeluarkan bau busuk). Rupanya setelah cicipan
   
 pertama, lidahnya langsung “jatuh cinta” pada rasa durian. Dia melahapnya hingga
   
 kenyang sekali, mendekati muntah. Sejak itu, selama musim durian, setiap sore dia
   
 singgah ke penjual durian di pinggir jalan Senayan. Sambil melahap daging buah
   
 durian dia sering menggumam: “Oh, bloody bule, always says this is a skunk. I have
     wasted my two precious years not eating this heaven’s fruit. This is the real
     heaven’s fruit. Oh, I love it!
” Isterinya tidak mau diajak ikut makan durian dan tetap
   
 tidak tahan terhadap baunya. Hanya satu dari dua putranya yang ikut  menjadi
     maniak durian. Bila dia makan durian, dia dilarang tidur di kamar tidur dan terpaksa
     tidur di sofa di ruang keluarga.  “My wife will not go anywhere. But durian is not
     available all-year-round,” katanya. Walau dia masih muda (38 tahun), lebih memilih
     memakan durian dibanding hubungan seks dengan isterinya. Bulan Desember 2005,
     kami menerima e-mailnya. Setelah pensiun dia menetap di Athens, Georgia, USA.
     Salah satu 'kehilangan' yang paling dia rasakan sejak meninggalkan Indonesia,
     1993, adalah buah durian. Sejak tahun 2002, ada orang Prancis bernama Eric Jean
     menjadi  prime customer kami. Eric Jean makan durian setiap hari, selagi ada, tetapi
   
 dia lebih beruntung dan tidak perlu tidur di atas sofa di ruang keluarga, seperti Evan
   
 Hassiotis, karena isterinya adalah perempuan Indonesia yang juga penggemar
   
 durian. Putrinya yang belum berumur setahun pun sudah diberi makan durian. Baru-
    
baru ini, 22 November 2006, kami berkenalan dengan Prof. em Jacques Kamm,
   
 berkebangsaan Switzerland, yang mengaku sangat menyukai buah durian. Kami

   
 ramalkan, lambat laun akan semakin banyak orang 'bule' yang suka makan durian.

Q:  Adakah rencana ekspor Durian Juntak ke luar negeri?
A:  Hal itu bukannya tidak kami pertimbangkan. Tetapi kami nilai untuk masa yang
     cukup jauh ke depan, menjual ke pasar lokal masih lebih menguntungkan.
     Indonesia sendiri masih mengimpor durian dari Thailand dan Malaysia ribuan ton
     setiap tahun. Perluasan kebun durian hingga puluhan ribu hektar pun belum akan
     sanggup memenuhi permintaan konsumen kita. Bila biaya pengangkutan melalui
     udara semakin terus menurun, maka akan semakin feasible untuk merambah pasar
     luar negeri. Kami ingin tetap menghasilkan durian matang pohon dan enggan beralih
     ke durian petikan, sehingga hanya menggunakan jasa angkutan udara yang cocok
     bagi kami. Sudah banyak sekali permintaan dari berbagai negara di seluruh penjuru
     dunia yang ingin mencoba produk kami, namun terpaksa masih kami tolak. Mereka
     ingin mencicipi durian yang benar-benar matang dan bercita-rasa penuh. Produk
     kami sebenarnya sudah sering dikirim oleh customer ke luar negeri, terutama ke
     Saudi Arabia. Isi durian yang sudah dingin dimasukkan ke dalam dus styrofoam,
     dilak, lalu dibungkus dengan kantong plastik tebal dan diikat dengan ketat. Setelah
     yakin bahwa baunya tidak ada lagi yang keluar, barulah dititipkan kepada teman
     atau saudara mereka yang akan berangkat ke Tanah Suci. Ketika melayani
     permintaan seperti itu, tidak jarang kami menerima celutukan, “Wah, durian-nya

     naik haji, sedang yang punya belum!


Q:  Saya tetap lebih menyukai durian impor dari Thailand.  Apa komentar Durian Juntak?
A:  Kami berpegang teguh pada adagium lama, “Pelanggan merupakan Raja."  Anda
     yang memutuskan apa yang ingin anda beli. Lagi pula, masalah selera tidak pantas
     diperdebatkan, karena tidak akan pernah ada titik temu di antara dua orang yang
     memiliki selera berbeda. Kami hanya dapat memberi penjelasan yang seobjektif
     mungkin. Bangkok itu 3.500 km dari Jakarta, yang memerlukan waktu seminggu
     bagi kapal laut, sementara durian jatuhan hanya tahan 2 hingga 5 hari sebelum
     retak karena terlalu matang. Agar lebih tahan lama, tidak merekah atau busuk
     dalam perjalanan, durian dari Thailand senantiasa dipetik sebelum matang pohon.

   
 Proses durian dari Thailand hingga ke Jakarta misalnya adalah sebagai berikut:
     Dipetik oleh pekebun lalu dikumpulkan ―› dijual kepada pedagang dan disortir ―›
     diteruskan kepada eksportir ―› packing dan pemeriksaan oleh karantina ―›
     menunggu kapal pengangkut ―› dalam perjalanan laut ―› tiba di Tanjung Priok ―›
     pembongkaran muatan dan pemeriksaan oleh karantina ―› pengurusan
     pengeluaran dari pelabuhan ―› pengangkutan ke gudang atau cold storage ―›
     dan setelah negosiasi akan diangkut ke toko buah atau supermarket.
     Waktu yang diperlukan untuk semua itu diperkirakan minimal dua minggu. Ada juga
     yang diangkut dengan pesawat terbang dan mutunya lebih baik (lebih mendekati
     matang pohon), tetapi harganya menjadi jauh lebih tinggi.
     Kami juga menyadari bahwa banyak orang yang beranggapan bahwa mutu barang
     impor selalu lebih baik daripada produk lokal. Anggapan itu berdasarkan kenyataan
     sehari-hari, terutama bagi produk manufacturing. Tetapi khusus bagi durian, yang
     bukan produk manufacturing, anggapan seperti itu jelas salah dan tidak berlaku.
     Keunggulan durian kami bukan karena proses produksi atau quality control yang
     lebih baik, tetapi karena cara panen yang berbeda: Durian impor terpaksa petikan
     sedang durian kami matang pohon atau jatuhan. Suatu kali, seorang penelpon
     mengatakan kepada kami bahwa dia tidak percaya durian kami lebih baik dari durian
     impor. Katanya, orang Thailand sudah terkenal paling jago dalam memelihara
     durian. Alasan yang selalu kami kemukakan membuat mutu durian kami lebih baik
     dari durian impor adalah karena durian kami jatuhan,  sedang durian impor adalah
     petikan. Tidak ada sangkut pautnya dengan kepiawaian kami dibanding pekebun
     durian di Thailand dalam hal memelihara durian.


Q:  Apa dasar keyakinan Durian Juntak bahwa produk-nya lebih baik dari durian impor?
A:  Dengan perasaan getir, harus kami akui bahwa mutu kebanyakan produk lokal
     Indonesia seringkali lebih rendah dari mutu produk impor. Namun dalam hal buah
     durian ini, justru kami ingin membuktikan kebalikannya. Penyebabnya tidak lain
     adalah sifat produk itu sendiri yang tidak tahan lama disimpan. Kebun Durian
     Juntak hanya 63 km dari kediaman kami, yang dapat ditempuh paling lama
     2 jam dengan kendaraan beroda empat. Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi
     kami untuk memetik durian agar lebih tahan dalam perjalanan, seperti durian
     Thailand atau Malaysia. Memetik durian sebelum matang pohon, bagaimana
     pun sama dengan memberhentikan proses biologis yang seharusnya masih
     terus terjadi dalam buah tersebut. Bagi durian yang dipetik, proses
     penyempurnaan berbagai elemen kimiawi akan terhenti karena sudah terputus
     dari induknya. Tidak heran bila aroma durian impor tidak setajam durian matang
     pohon kami. Bagi yang menyukai durian yang memiliki “rasa pahit,” hanyalah
     dapat menemukannya pada durian Monthong jatuhan.

 

 

Kirim email kepada durian@juntak.com bila mempunyai pertanyaan maupun komentar mengenai web-site ini.
Hak Cipta © 2011 Juntak Indonesia Corporation
Norfolk, VA   USA  (Juntak USA, Corp. -- IT dan Engineering Support)
Tebet, Jakarta-Selatan  Indonesia (Juntak Indonesia, Corp.  -- Kantor Pusat)
Tanggal Modifikasi: Tuesday, October 11, 2011